Ini Namanya Trigeminal Neuralgia #1

Akhirnya kepikiran nih untuk mulai menulis, mungkin karena mentok bikip report psikologis :p


Seperti janjiku ditulisan sebelumnya, aku mau ceritain perjalananku. Ceritanya akan panjang, jadi kalau yang ga suka cerita panjang, tulisan saja, boleh skip ya. Tujuan aku nulis ini sebenernya karena aku gak mau temen - temen ikut merasa bingung kaya yang aku rasakan sebelumnya, ketika mengalami sakit gigi yang gak jelas kenapa. Jadi, yuk, kita mulai.


Kejadian ini aku rasakan sekitar bulan Mei. Gigi atas deretan ketiga setelah gigi seri (atas) terasa sakit kaya ngilu gitu. Rasanya gak terlalu sakit tapi mulai mengganggu. Kebetulan adikku saat itu mau ke dokter gigi, jadi aku ikutan. Adikku diperiksa duluan, bolong giginya. Giliranku diperiksa, ibu dokter suruh aku tunjukin yang sakit yang mana. Beliau ketuk dengan alat tapi tidak terasa sakit. Ibu dokter kebingungan, gak ada kebusukan, tapi memang ada kecil bolong, yang menurut beliau gak akan menyebabkan rasa sakit seperti yang aku rasakan. Bolong kecil itu akhirnya ditambal. Kami disuruh kembali kontrol dua minggu lagi, karena hanya tambalan sementara.


Belum sampai dua minggu, aku kembali. Kenapa? Karena saat aku makan, tiba - tiba terasa sakit, banget, parah kayak ketusuk benda tajam sampai dalem. Rasa sakitnya sih gak lama, tapi ketika ngunyah sakit sekali. Awalnya masih bisa ku tahan, tapi kok jadi nular ke graham kiri bawah ya? Ketidaknyamanan ini membawa aku kembali ke dokter. Sayangnya saat aku datang, dokter yang ku tuju ternyata tidak ada jadwal. Covid ini membuat jadwal dokter gigi menjadi berubah. Terlanjur ke RS dan sudah gak tahan sakit, aku akhirnya pilih dokter yang lain. Dokterpun memeriksa, aku disuruh tunjuk gigi yang sakit, diketuk dengan alatnya, gak sakit. Dokter coba amati gigi yang aku bilang sakit, tapi ybs tidak menemukan apapun. Dokter lalu coba bor dan kasih jarak sama gigi atas yang awalnya ditambal dokter pertama. Ia tidak melakukan apapun karena menurutnya tidak ada masalah. Hanya diresepi pengurang rasa sakit.


Aku balik lagi ke RS sesuai dengan jadwal yang dua minggu diawal. Sakit sekali, gak tahan banget. Ku info ibu dokter kalau gigi geraham bawah kiri juga sakit. Aku disuruh rontgen gigi. Gigi atas yang sakit dibersihkan dan tambalan sementara dipermanenkan. Hasil rontgen keluar. Gigi graham bawah itu memang keluar dan mendesak gigi depannya (impaksi namanya). Aku disarankan ke dokter bedah mulut karena bisa saja sakit karena gigi bungsunya mau keluar tapi terhambat karena ada gigi depannya.


Dua hari kemudian aku memutuskan ke RS lain untuk cek ke dokter bedah mulut, pikiranku sih supaya bisa dapet masukan lain (second opinion). Aku kontrol gak lebih dari 5 menit, karena menurut dokter ini gak perlu dilakukan bedah pencabutan gigi bungsu graham kiri bawah, impaksinya tidak mengganggu. Menurut dokter mungkin saja sakit karena gusi tidak sehat. Bentuk impaksi tersebut menyebabkan adanya ruang kosong yang tidak terkena sikat gigi. Lalu kembali ada rekomendasi ke dokter gigi spesialis kesehatan gusi a.k.a Periodentis.


Mencari periodentis dimasa pandemi ini susah banget, bikn appointment pun gak bisa dalam waktu dekat. Maknyus banget nahan sakitnya. Kadang sampai gak makan demi gak mau ngerasain sakit. Makan bubur juga tetap terasa. Akhirnya dapetlah sebuah klinik yang ada jadwal dokter Periodentisnya. Tapi apa daya, jawabannya pun sama, gigi ini tidak ada masalah, gusi pun sehat. Saya hanya dibekali ilmu pengetahuan cara menggosok gigi yang ada impaksi ini supaya bisa tersentuh sikatan gigi dan tidak menjadi ladang kuman.


Pada titik ini, asli muak banget rasanya. Capek, kesel dan sedih. Rasanya pengen dicabut aja ini gigi. Setiap sakit kambuh, orang sekitar kena amukan, mungkin sebagai replacement dari gak bisa mengatasi rasa sakit. Beberapa hari bertahan dengan obat pengurang rasa sakit. Sampai pada akhirnya.... Aku googling. Ku ketik kata kunci, "Sakit gigi tidak sembuh-sembuh". Ada satu artikel yang kalau tidak salah berbunyi, "Sakit gigi tidak sembuh? Waspadai Trigeminal Neuralgia". Tentu saja langsung klik dan baca, yang paling saya ingat adalah adanya pelengketan pembuluh darah dan saraf. Sebagai orang awam, tentu saya hanya merem melek karena gak paham.


Teknologi yang canggih, langsung mengarahkan ku ke salah satu aplikasi untuk berdiskusi dengan dokter secara virtual. Cari - cari dokter spesialis bedah saraf yang oke dan berpengalaman cukup lama. Ada dua dokter, satu perempuan dan satu laki - laki. Keduanya memberi jawaban yang sama. YA, SAMA.


TRIGEMINAL NEURALGIA.


Gak nangis sih, tapi sampai detik aku ketik blog ini, aku ingat kalau 4 July 2020 adalah hari aku divonis sebagai penderita rare diseases. Rasanya kaget karena baru denger nama penyakit itu, gapernah tau kalau di dunia ini ada penyakit macam itu.



Popular posts from this blog

Trigeminal Mengapa Kamu Kambuh?

REVIEW : N'PURE Centella Asiatica Day & Night Cream

REVIEW : N'PURE Noni Probiotics Series 'Comfort Me' Moisturizer